Showing posts with label info islam. Show all posts
Showing posts with label info islam. Show all posts

Wednesday, June 22, 2022

Tafsir Surat Yasin Ayat 13 - 15


Semoga Bermanfaat, Silahkan Share jika dirasa bermanfaat dan semoga mendapatkan pahala jariyahnya.

Masukan dan Saran Serta Kritik Membangun sangat diharapkan ke email : tujuanmucom@gmail.com

Simak Juga Artikel Kami Lainnya di Channel Youtube :

https://www.youtube.com/c/TopChannelOne

Play List Kajian Sunnah di Youtube :

https://www.youtube.com/playlist?list=PLIJQYJ-Cz_XkX6L_nhAGqOAX9FX9MDKQQ

Twitter     :  tujuanmucom

Tag / Label :

Kajian Islam, Tauhid, Kajian Islam Terbaru,Update Kajian,Update sunnah, info Islam,Info Kajian Islam, Manhaj Salaf, Tauhid,Al Qur’an, Allah di atas Arsy',Dakwah salaf

Supported By : www.tujuanmu.com

Monday, January 17, 2022

DIANGKATNYA AMANAH DARI HATI

Semoga Bermanfaat, 

Silahkan Berkomentar, Like, Share dan Subscribe
Baca Juga Kajian Lainnya di
https://griyakajiansunnah.blogspot.com
https://gotauhid.blogspot.com 

Label :
#Update kajian
#Kajian Islam
#Info Islam
#Update Islam
#Ilmu Islam
#Update Hadist
#Update Sunnah
#Sunnah
#konsultasi syariah,kajian.net

Tag :
Update Kajian Sunnah, Kajian Islam, Kajian Islam Terbaru,Update Kajian,Update sunnah, info Islam,Info Kajian Islam, News Islam, Berita Islam, Kabar Islam, Dunia Islam, Belajar Islam, Manhaj Salaf, Tauhid, go Tauhid,Griya Kajian Sunnah

 

Wednesday, January 12, 2022

Ibunda Urwah bin Zubair

Kisah Para Sahabat Nabi Muhammadﷺ  (bagian.43)

https://chat.whatsapp.com/J7Qbx4fk1ChLAYJgC9mqMG ikhwan

Ibunda Urwah bin Zubair  (seri.01)

Pernahkah pembaca mendengar kisah hidup Urwah bin Zubair.?
Dialah tokoh kenamaan yang dikelilingi oleh tokoh-tokoh pilihan. Ayahandanya adalah Zubair bin Awwam, pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira akan masuk jannah. Sedangkan saudara kandungnya adalah Abdullah bin Zubair, seorang pahlawan Islam yang masih masuk dalam kategori sahabat Nabi dan masuk dalam kategori ulama. Kakaknya ini adalah bayi pertama yang lahir di bumi hijrah (Madinah).

Urwah tidak seberuntung kakaknya yang sempat melihat Nabi, karena selisih umurnya sekitar 20 tahun, sehingga beliau tidak berkesempatan bertemu dengan Nabi. Beliau harus rela menjadi tabi’in bukan sahabat. Tepi bukan tabi’in biasa. Beliau termasuk salah satu dari tujuh fuqaha Madinah yang terkanal keilmuan, kezuhudan, dan ketakwaannya. Merekalah yang menjadi penasehat pribagi Umar bin Abdul Aziz tatkala menjabat sebagai gubernur Madinah.

Yang paling membanggakan, Allah menakdirkan ia lahir dari rahim seorang shahabiah ternama, Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq – yang digelari Dzatun Nithaqain. Urwah kecil dibesarkan dalam nuansa yang sarat dengan nilai-nilai ketakwaan, keilmuan, dan akhlak yang mulia.

Ya, dari keluarga Abu Bakar yang penuh berkah itu.

Asma’ adalah shahabiah yang terkenal keilmuan dan ketakwaannya. Pengorbanannya yang luar biasa dalam menyukseskan hijrah Rasulullah, dan wanita inilah yang akan kita bahas selanjutnya.

Bibinya ialah Ummul Mukminin Aisyah, wanita paling brilian dalam sejarah manusia. Kakeknya ialah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah dan sahabat karibnya di dunia dan akhirat.

Allah seakan ingin mengumpulkan berkah yang bertebaran tadi dalam diri Urwah. Ahmad bin Abdillah Al-Iiji mengatakan, “Urwah bin Zubair adalah lelaki shalih yang tak pernah terlibat dalam fitnah apa pun.”

Qabishah bin Dzuaib menceritakan, “Dahulu aku dan Abu Bakar bin Abdurrahman bermajelis dengan Abu Hurairah, namun Urwah mengalahkan kita kerna ia bermajelis dengan Aisyah, manusia paling alim.”

“Dia seperti lautan yang tak pernah mengering airnya.”

“Satu dari empat orang suku Quraisy yang kudapati ilmunya seluas samudera,” kata Imam Az-Zuhri tentang gurunya yang satu ini.

Urwah bin Zubair termasuk salah seorang hafizh dan faqih. Ia menghafal hadits dari ayahnya. Ia amat rajin shaum, bahkan tatkala ajal menjemputpun ia dalam keadaan shaum. Ia mengkhatamkan seperempat Al-Quran setiap harinya. Ia selalu bangun malam dan tak pernah meninggalkannya kecuali sekali saja, yaitu malam ketika kakinya harus diamputasi.

Diamputasi..??

Ya.., saat itu para tabib telah kewalahan mengobati kanker kulit yang dideritanya. Penyakit itu menjalar dari kaki sampai ke betis. Sedikit demi sedikit kakinya mulai membusuk.


Mereka khawatir jika dibiarkan, pembusukan itu akan merebak ke seluruh kakinya bahkan ke tubuhnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengamputasi saja bagian yang membusuk tadi.

Dengan lemah lembut, mereka menawarkan kepadanya agar mau meminum khamr supaya tidak kesakitan selama proses amputasi dilakukan.

Namun, apa jawabnya?

“Tak pantas rasanya bila aku menenggak barang haram sambil mengharap kesembuhan dari Allah.”

“Kalau begitu, kami akan memberimu obat bius,” Kata para tabib.

“Aku tak ingin salah satu anggota badanku diambil tanpa terasa sakit sedikitpun, aku justru berharap pahala yang besar dari rasa sakit itu,” Tukas Urwah.

Sesaat kemudian masuklah sejumlah orang yang tak dikenalnya.

“Siapa mereka?” Tanya Urwah.

“Mereka orang-orang yang siap memegangimu, karena rasa sakitnya boleh jadi membuatmu tak sabar dan lepas kontrol,” Kata para tabib.

“Kurasa kalian tak perlu melakukannya, Insya Allah aku sanggup mengendalikan diriku,” Kata Urwah dengan tabah.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Urwah akhirnya berkata pada para tabib,

“Jika memang tak ada cara lain, maka baiklah, akau akan shalat, dan silahkan tuan-tuan mengamputasi kakiku ketika itu!” Jawabnya dengan penuh keyakinan.”

Akhirnya proses amputasi dilakukan. Mereka memotong kakinya pada bagian lutut, sedangkan Urwah diam dan tak merintih sedikitpun ketika itu. Ia benar-benar tersibukkan oleh shalatnya, sampai-sampai gesekan-gesekan gigi-gigi gergaji itu seakan tak terasa olehnya, Subhanallah!

Usai pengamputasian, mereka mendidihkan minyak zaitun dan menyiram bagian yang terpotong dengan minyak tadi. Sontak Urwah pun jatuh tak sadarkan diri. Setelah siuman, ia berkata lirih sambil menyitir firman Allah berikut,

“Sungguh, kita benar-benar merasa letih karena perjalanan ini.” (QS. Al-Kahfi: 62)

Namun cobaannya tak berhenti sampai di sini. Bahkan diriwayatkan bahwa pada malam kakinya diamputasi itu, salah seorang anak kesayangannya yang bernama Muhammad, jatuh terpeleset dari atap rumah dan wafat seketika!

Para tetangga dan handai taulan pun berdatangan memberikan takziyah kepadanya. Namun orang alim ini justru memanjatkan pujian kepada Allah, “Segala puji bagi-Mu, ya Allah, mereka adalah tujuh bersaudara yang satu di antaranya telah Kau ambil, namun Engkau masih menyisakan enam bagiku. Sebelumnya aku juga memiliki empat anggota badan, lalu Kau ambil satu dari padanya, dan Kau sisakan yang tiga bagiku. Meski Engkau telah mengambilnya, namun Engkau jualah pemberinya, dan meski Engkau telah mengujiku, namun Engkau jualah yang selama ini memberiku kesehatan.”

Alangkah tabahnya beliau.

Betul-betul potret ketabahan yang luar biasa dalam sejarah manusia. Dari manakah ia mewarisi sifat tersebut?

Untuk menelusurinya, marilah kita kembali ke beberapa tahun yang silam.

Tunggu kisah selanjutnya …

Sumber: Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, Wafa Press, Cetakan Pertama Ramadhan 1427 H / Oktober 2006.


Artikel www.KisahMuslim.com

Wednesday, January 5, 2022

Flek Kecoklatan Sebelum Haid

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته...
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada satu pernyataan yang menjadi acuan dalam masalah ini, yaitu pernyataan seorang sahabat wanita, Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha,

كُنَّا لاَ نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا

“Kami dulu tidak menganggap shufrah dan kudrah yang keluar pasca-haid sebagai bagian dari haid.” (HR. Bukhari 326 dan Abu Daud 307)

Shufrah adalah cairan berwarna kekuningan. Sedangkan kudrah adalah cairah keruh kecoklatan.

Pernyataan ini disampaikan oleh sahabat menceritakan kebiasaan mereka di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ini tidak benar, tentu akan dikoreksi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mendiamkannya, menunjukkan bahwa itu direstui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meskipun dalil yang ada menyebutkan pasca-haid, namun para ulama memberlakukan dalil ini untuk kasus shufrah dan kudrah yang keluar sebelum haid.

Ibnu Abdil Bar – ulama Malikiyah – mengatakan,

القياس أن الصفرة والكدرة قبل الحيض وبعده سواء، كما أن الحيض في كل زمان سواء

Kesimpulan yang benar menunjukkan bahwa shufrah dan kudrah sebelum haid dan pasca-haid statusnya sama. Sebagaimana haid dalam semua waktu statusnya sama.  (al-Istidzkar, 1/325)

Karena itu, flek kecoklatan yang keluar sebelum haid ada 2 keadaan:

Pertama, keluarnya bersambung dengan haid atau ketika keluar diiringi dengan tanda-tanda ketika wanita ini mengalami haid, seperti nyeri perut, sakit pinggang atau kontraksi tubuh lainnya.

Para ulama menggolongkan flek semacam ini terhitung haid, dan memiliki hukum sebagai hukum darah haid.

Imam Ibnu Baz memberikan rincian untuk shufrah dan kudrah yang keluar sebelum haid,

إن كانت هذه الكدرة والصفرة البنية جاءت في أعقاب الحيض في آخره غير منفصلة فهي منه، أو جاءت في أوله غير منفصلة فهي منه

Jika kudrah dan sufrah ini keluar setelah haid, di akhir haid dan tidak putus, maka statusnya haid. Atau keluar sebelum haid dan tidak putus dengan darah haid, maka terhitung haid. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 29/116)

Kedua, keluarnya darah kecoklatan atau kekuningan ini tidak bersambung dengan haid, tidak diiringi rasa sakit atau nyeri di perut, maka tidak terhitung haid dan tidak berlaku hukum haid. Artinya tetap wajib shalat dan ibadah lainnya.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

تقول أم عطية ـ رضي الله عنها: كنا لا نعد الصفرة والكدرة بعد الطهر شيئاً، وعلى هذا، فهذه الكدرة التي سبقت الحيض لا يظهر لي أنها حيض، لا سيما إذا كانت أتت قبل العادة ولم يكن علامات للحيض من المغص ووجع الظهر ونحو ذلك

Ummu Athiyah mengatakan, ‘Kami tidak menganggap shufrah dan kudrah yang keluar pasca-haid sebagai bagian dari haid.’ Karena itu, kudrah yang keluar menjelang haid, menurutku tidak disebut haid, terlebih jika keluar sebelum waktu kebiasaan haid dan tidak disertai tanda-tanda haid, seperti sakit perut, sakit pinggul atau semacamnya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 11/210).

Demikian, Allahu a’lam


Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/28384-flek-kecoklatan-sebelum-haid.html

KITA BERADA DI TEMPAT YANG TIDAK ABADI

https://t.me/menebar_cahayasunnah

Malam berganti siang
Siang berganti Malam
Ada yang pergi dan datang
Dan ada yang pergi namun tidak pernah kembali…

Saat ini, aku berada jauh dari negeriku sekitar 8000 km…
Tiba-tiba ketika aku membuka HP, aku ada mendapatkan sebuah pesan duka:

عظم الله أجرك

(Semoga Allah memberikan padamu pahala yang besar)

Ada perasaan tidak nyaman di dalam hati, siapakah yang pergi dan aku tidak akan melihatnya lagi?
Aku segera cari tahu dengan perasaan tidak menentu, ternyata yang meninggal adalah Bibiku (adik ayahku) semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima amalannya

Akhi Ukhti…
Kita berada di tempat yang tidak abadi
Panggilan takdir buat kita adalah rahasia Ilahi
Engkau dan aku juga sedang menanti waktu untuk berpisah dengan orang yang dicintai
Hari-hari akan menyingkap segala yang terkadang tidak terbesit di hati

Namun kita sebagai hamba ilahi, harus selalu siap siaga
Siaga menerima ditinggal para kekasih
Siaga tatkala kita yang harus meninggalkan para kekasih
Karena kita adalah milik Allah

إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. إِنَّ لِلّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أعْطَى وَ كُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kita akan kembali kepadaNya. Sesungguhnya bagi Allah apa yg Ia ambil dan bagi-Nya apa yg Ia berikan. Segala sesuatu disisi Allah sudah ada ajalnya.”

Semoga Allah senantiasa menjaga orang tua kita dalam ketaatan kepadaNya, dan Semoga ALLah membantu kita untuk berbakti kepada keduaNya

Untukmu yang ditinggalkan orang-orang tercinta, ada kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar..
Maka bersabarlah, dan berharaplah pahala dari Allah
karena esok atau lusa engkaupun akan segera berjumpa dengannya

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَ ارْحَمْهُ وَ عَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ.

Ya Allah, ampunilah dia, sayangi dia, berikan afiah padanya dan maafkanlah dia”.

Ustadz DR.Syafiq Riza Basalamah, MA. حفظه الله تعالى

Tuesday, January 4, 2022

Doa Saat Berumur 40 tahun


Ust Syafiq Riza Basalamah

Semoga Bermanfaat,

Silahkan Berkomentar, Like, Share dan Subscribe

Baca Juga Kajian Lainnya di

https://griyakajiansunnah.blogspot.com

https://gotauhid.blogspot.com

Label :

#Update kajian

#Kajian Islam

#Info Islam

#Update Islam

#Ilmu Islam

#Update Hadist

#Update Sunnah

#Sunnah

#konsultasi syariah,kajian.net

Tag :

Update Kajian Sunnah, Kajian Islam, Kajian Islam Terbaru,Update Kajian,Update sunnah, info Islam,Info Kajian Islam, News Islam, Berita Islam, Kabar Islam, Dunia Islam, Belajar Islam, Manhaj Salaf, Tauhid, go Tauhid, Griya Kajian Sunnah

 

Monday, January 3, 2022

KISAH SEORANG ANAK YANG TETAP KOKO DENGAN TAUHID

Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah
http://t.me/Manhaj_salaf1

Ada seorang anak yang bertahan untuk kokoh dalam tauhidnya, sekalipun taruhannya adalah ibunya mengancam untuk bunuh diri.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَا حِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ وَّا تَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَا بَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُ نَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

"Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS. Luqman: 15)

Terkait ayat di atas, ada kisah yang menarik, Sa'ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu memiliki seorang ibu yang amat beliau cintai dan ibunya pun sangat menyayanginya. Namun sayangnya, ibunya adalah wanita yang keras berpijak pada kesyirikan. Saat ibunya mendengar sang anak -yakni Sa'ad radhiallahu 'anhu-  masuk Islam, maka sang ibu berkata kepada anaknya tersebut:

لتَدَعَنَّ دِينَك هذا أو لا آكُلُ ولا أشرَبُ حتى أموتَ

"Tinggalkan agamamu (Islam) ini, atau kalau kau tidak mau meninggalkan agama Islam, maka aku tidak akan mau lagi makan dan minum sampai kematian datang menjemputku".

Namun, Sa’ad radhiallahu ‘anhu tetap kokoh pada pilihannya, yakni berpegang pada agama tauhid, agama Islam !

Ibunyapun rupanya tidak main-main melakukan ancaman mogok makannya. Maka, mulailah sang ibu melakukakan mogok makan berhari-hari. Sa’ad radhiallahu ‘anhu benar-benar terpukul melihat ibunya ternyata benar-benar melakukan ancaman mogok makannya tersebut. Ia menangis dan meminta ibunya menghentikan melakukan mogok makannya itu.

Tapi ibunya terus keras dengan sikapnya. Ia hanya mau berhenti mogok makan jika Sa’d radhiallahu ‘anhu meninggalkan agama tauhid dan kembali mengikuti ajaran nenek moyang, yakni agama syirik. Lantas, apa sikap akhir yang diambil Sa’d radhiallahu atas ini semua ?

Masya Allah, pada akhirnya, walau dengan berlinang air mata dan hancur perasaannya melihat ibunya yang sudah tampak sangat kelelahan dengan aksi mogok makannya tersebut, tetapi saat itu semua harus ditukar dengan kembali pada ajaran syirik, maka Sa’d radhiallahu ‘anhu tidak mau. Baginya ketaatan kepada Allah di atas segalanya. Maka, beliaupun berkata kepada ibunya:

يا أُمَّهْ، تَعلمينَ واللهِ لو كانت لك مِئَةُ نفْسٍ، فخَرَجَتْ نفْسًا نفْسًا، ما تَرَكْتُ دِيني هذا لشَيءٍ، فإنْ شِئتِ كُلي، وإنْ شِئتِ لا تأكُلي، فأَكَلَتْ.

"Wahai ibunda, ketahuilah olehmu, Demi Allah sekiranya engkau memiliki seratus nyawa dan nyawamu keluar satu persatu dengan cara tragis seperti ini, maka aku tidak akan pernah meninggalkan agama ini sedikitpun, maka silahkan jika engkau mau makan makanlah dan jika engkau tidak makan, mka tidak usah makan".

Maka, sang ibu tersebut menyerah dan mulailah ia makan dan minum, sementara Sa'ad radhiallahu ‘anhu tetap berpegang teguh pada agama tauhid agama Islam sampai wafatnya. Rahmat Allah atasmu wahai Sa’d radhiallahu ‘anhu. Sungguh Surga tertinggi amat layak bagimu.

Kisah di atas terdapat di banyak kitab tafsir saat menjelaskan tafsir Surah Luqman ayat
 15. Diantaranya disebutkan dalam Tafsir At-Thabari XX:138 dengan ringkas. Kata Syu’aib Al-Arna’uth rahimahullah dalam Takhrij Al-Awaashim minal Qawashim saat menilai sanad kisah tersebut II:228, diterima untuk dihasankan.


وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber::
https://dakwahmanhajsalaf.com/2020/09/kisah-seorang-anak-yang-tetap-kokoh-dengan-tauhid.html

ENAM JERATAN IBLIS

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa jerat-jerat iblis terfokus pada enam poin. Ia akan mengajak manusia kepada hal yang paling berbahaya, yaitu poin pertama. Bila belum berhasil, maka ia akan menggodanya menuju poin kedua, dan seterusnya. Berikut keenam poin tersebut:

1⃣ Pertama: Mengajak manusia kepada kakafiran, kemusyrikan dan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Hal inilah yang pertama diinginkan setan dari manusia. Betapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam poin ini hingga menjadi bala tentaranya. Allahul-musta’aan

2⃣ Kedua: Menarik manusia kepada bid’ah dan perkara baru dalam agama, baik dalam masalah akidah maupun ibadah. Bid’ah begitu berbahaya, sebab begitu kecil kesempatan bertaubat dari pelakunya. Selain itu, bid’ah juga dapat membawa kepada kekafiran.‼️

3⃣ Ketiga: Menggoda manusia agar mengerjakan dosa besar dengan berbagai macamnya. Dosa besar juga merupakan pengantar kepada kekafiran. Betapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam dosa besar. Sehingga hati mereka menjadi keras sehingga dapat menghalangi mereka dari menerima kebenaran.

4⃣ Keempat: Menggodanya dengan dosa-dosa kecil. Dosa-dosa ini menjadi mukadimah kepada dosa besar. Bila terus dikerjakan, maka statusnya berubah menjadi dosa besar. Meskipun disebut dosa kecil, namun tetap saja haram dilakukan dan tidak sepatutnya diremehkan. Mereka dahulu berkata, “Janganlah engkau melihat kepada kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat

5⃣ Kelima: Menjadikan manusia tersibukkan dengan hal-hal mubah hingga banyak menyia-nyiakan waktu dan usia, tanpa memanfaatkannya untuk kebaikan dan amal saleh. Sebagian orang berlebihan dalam hal mubah, seperti dalam hal makan dan minum, tempat tinggal maupun pakaian. Mereka menyia-nyiakan banyak harta dan waktu, serta jauh dari berbuat kebaikan. Hingga menyebabkan mereka lupa bersiap-siap berbekal menuju negeri akhirat

6⃣ Keenam: Memalingkannya dari amalan utama kepada selainnya. Seperti mengeluarkan harta pada perkara tidak penting, menyibukkan diri dengan amalan rendahan, belajar cabang ilmu yang tidak bermanfaat, mementingkan usaha syubhat (yang tidak jelas halal haramnya) dari pada yang jelas halalnya, mendahulukan ibadah yang keutamaannya hanya kembali kepada diri sendiri dari pada ibadah yang keutamaannya kembali kepada orang banyak.


📂 Minhajul Muslim,

✍🏻 Dr. Abdullah al-Jibrin hafizhahullahu

Sunday, December 26, 2021

Masa Depan Seorang Mukmin


https://t.me/menebar_cahayasunnah

*✍🏻Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc.*

Terlebih kita yangb hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Hendaklah kita bersegera menuju amalan shalih. Karena sesungguhnya amalan shalih itu menyelamatkan kita dari fitnah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا…

“Bersegeralah kalian -kata Rasulullah- menuju amalan shalih sebelum munculnya fitnah yang gelap gulita. Di waktu pagi seseorang masih Mukmin, di waktu sore sudah kafir, diwaktu sore dia masih Mukmin, di waktu pagi dia sudah kafir.”

Ini adalah saking beratnya fitnah di masa tersebut, syubhat pemikiran yang menyesatkan, sehingga menyebabkan keimanan seseorang goyah, ia tidak bisa kokoh di atas keimanan kepada Allah Jalla wa ‘Alaa

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di zaman fitnah ini menyuruh kita banyak beramal shalih. Dalam riwayat Bukhari dalam shahihnya, suatu malam Rasulullah bangun, lalu Rasulullah bersabda:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ، مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ، مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ، كَمْ مِنْ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Laa Ilaaha Illallah.. fitnah apa yang Allah turunkan di malam ini? perbendaharan apa yang Allah turunkan di malam ini? Siapakah yang mau membangunkan para pemilik kamar itu? Berapa banyak yang berpakaian di dunia ternyata telanjang dalam kehidupan akhirat.”

Kata Ibnu Hajar Al-Asqalani, ini memberikan isyarat bahwasanya ketika di zaman fitnah, hendaknya kita banyak bertaqarrub kepada Allah, beramal shalih, mempersiapkan diri kita untuk hari esok, hari kematian kita.

Selengkapnya melalui: https://www.radiorodja.com/49589-khutbah-jumat-singkat-tentang-masa-depan-seorang-mukmin/

Mengenal Tanda-Tanda Kematian

Apakah benar ada tanda2 kematian dari 100 hari , 40 hari , 7 hari , dst ??

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

editor team admin:
https://t.me/DaunMint

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

🍃Kaidah penting yang perlu kita tekankan bahwa semua informasi, keyakinan, pemikiran yang bertentengan dengan al-Quran, hadis shahih maupun realita, adalah kebatilan yang tidak akan pernah bisa diterima.

🍃Berdasarkan kaidah ini, kita bisa menilai apakah informasi tersebut benar ataukah batil,

Pertama, Allah menegaskan dalam al-Qur’an

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

🍃Tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengetahui dengan detail. (QS. Luqman: 34)

🍃Jika kita ditanya, mana yang lebih memungkinkan untuk diupayakan terwujud, merencanakan waktu kematian atau tempat kematian?. Misalnya si A merencanakan waktu kematian, saya ingin mati di usia 63 tahun. Sementara si B merencanakan, saya ingin mati di jogja.

🍃Mari kita perhatikan, merencanakan usia, 100 % tidak mungkin bisa dilakukan manusia. Karena bertambah dan berkurangnya umur manusia, di luar kemampuan dan upaya manusia.

🍃Sementara merencanakan tempat mengakhiri hayat, lebih memungkinkan untuk diupayakan manusia. Karena seseorang mungkin saja berencana mati di kota A dan selama hidupnya, dia berusaha untuk tidak keluar dari kota A.

🍃Dengan demikian, kita bisa menjawab pertanyaan di atas, bahwa tempat kematian lebih memungkinkan untuk diupayakan terwujud. Meskipun keduanya murni ada dalam kekuasaan Allah.

🍃Kita kembali kepada ayat di atas. Pada ayat di atas, Allah menegaskan, ”tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati..”

🍃Allah tidak berfirman, ”manusia tidak mengetahui kapan dia akan mati..” tapi yang Allah firmankan, ”manusia tidak mengetahui dimana dia akan mati.”

🍃Jika Allah menegaskan bahwa manusia tidak bisa mengetahui tempat kematiannya, maka jelas manusia akan lebih tidak mengetahui berkaitan dengan waktu kematiannya.

🍃Karena merencanakan tempat kematian itu lebih memungkinkan untuk lebih memungkinkan untuk diupayakan, dari pada merencanakan waktu kematian.

🍃Sehingga ayat itu sejatinya memberikan pelajaran bagi kita, jika tempat saja manusia gak tahu, apalagi waktunya.

🍃Tanda kematian, 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian, jelas sangat bertentangan dengan ayat di atas. Karena semua tanda di atas berbicara tentang kematian dalam batas waktu.

Kedua, dalam tulisan tersebut digambarkan lauhul mahfudz layaknya pohon.

🍃”Selepas Ashar, jantung berdenyut-denyut. Daun yang bertuliskan nama kita di lauh mahfudz akan gugur..”

🍃Di mana dalil bahwa lauh mahfudz berupa pohon berdaun?. Padahal Allah sebut lauh mahfudz berupa kitab,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ

”🍃Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi, dan semuanya terdapat dalam kitab.” (QS. Al-Hajj: 70).

Ibnu Athiyah mengatakan,

هو اللوح المحفوظ

”Kitab itu adalah al-Lauh al-Mahfudz.”

Allah juga menegaskan,

وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ

🍃Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh)


قال ابن عباس : هو اللوح المحفوظ

Ibnu Abbas mengatakan, “Itu adalah lauhul mahfudz.” (al-Bahr al-Muhith, 9/237).

Di ayat lain, Allah juga menegaskan,

أُولَئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُمْ مِنَ الْكِتَابِ

”Seperti itulah yang mereka dapatkan dari jatah mereka yang telah tertulis dalam al-kitab.”

Al-Baghawi menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,

حظهم مما كتب لهم في اللوح المحفوظ

”Jatah mereka yang telah tertulis tentang mereka di al-Lauh al-Mahfudz.” (Tafsir al-Baghawi, 3/227).

🍃Memahami keterangan di atas, informasi masalah kematian dan tanda-tandanya, yang sama sekali tidak menyebutkan sumber, tidak selayaknya diperhatikan, apalagi diyakini kebenarannya. Tulisan yang sangat tidak bertanggung jawab dan 100% dusta.

Peringatan!

🍃Menyebarkan Berita Dusta di Internet
Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan mimpi beliau,

رأيت الليلة رجلين أتياني، فأخذا بيدي، فأخرجاني إلى أرض فضاء، أو أرض مستوية، فمرا بي على رجل، ورجل قائم على رأسه بيده كلوب من حديد، فيدخله في شدقه، فيشقه، حتى يبلغ قفاه، ثم يخرجه فيدخله في شدقه الآخر، ويلتئم هذا الشدق، فهو يفعل ذلك به

🍃Tadi malam saya melihat ada dua orang yang mendatangiku, lalu mereka memegang lenganku, kemudian mengajakku keluar ke tanah lapang. Kemudian kami melewati dua orang, yang satu berdiri di dekat kepala temannya dengan membawa gancu besi. Gancu itu dimasukkan ke dalam mulutnya, kemudian ditarik hingga robek pipinya sampai ke tengkuk. Dia tarik, lalu dia masukkan lagi ke dalam mulut dan dia tarik hingga robek pipi sisi satunya. Kemudian bekas pipi robek tadi kembali pulih dan dirobek lagi, dan begitu seterusnya.

🍃Di akhir hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan Malaikat, apa maksud kejadian yang beliau lihat

أما الرجل الأول الذي رأيت فإنه رجل كذاب، يكذب الكذبة فتحمل عنه في الآفاق، فهو يصنع به ما رأيت إلى يوم القيامة، ثم يصنع الله به ما شاء

🍃Orang pertama yang kamu lihat, itu adalah seorang pendusta. Dia membuat kedustaan dan dia sebarkan ke seluruh penjuru dunia. Dia dihukum seperti itu sampai kiamat, kemudian Allah sikapi sesuai yang Dia kehendaki. (HR. Ahmad 20165 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

🍃Di zaman internet, betapa mudahnya orang melakukan seperti yang disebutkan dalam hadis di atas. ”Membuat kedustaan dan dia sebarkan ke seluruh penjuru dunia..” karena cukup dia share di internet atau melalui sms, atau jejaring sosial lainnya, berita itu sudah menyebar ke mana-mana.

🍃Maka berhat-hati menyebarkan informasi dusta, apalagi atas nama syariat.

Allahu a’lam

Referensi: https://konsultasisyariah.com/21275-tanda-tanda-kematian.html

Menunda Awal Tahun

https://t.me/MuliaDenganSunnah

Ada yang menunda taubat, nanti saja awal tahun depan katanya..

Ada pula yang menunda berbuat kebajikan, besok saja seiring resolusi semangat baru di tahun yang baru ucapnya..

Lalu, matahari di tahun yang baru pun datang.. Namun tidak lagi bersama dia..
Sebab ia telah terbujur kaku wafat dalam ribuan angan yang tak pernah terlaksana..

Allah Ta’ala berfirman,
‎‎وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu ajal; Maka apabila telah datang waktunya..

Mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (QS al-A’raf: 34)

Terlebih tahun baru bukanlah momentum, apalagi untuk dirayakan..

📑 https://t.me/sahabatilmu

✒ Editor : Admin AsySyamil.com

📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.

Loyalitas dalam Islam

Oleh Ustad : Abdullah Taslim, Lc., MA


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Para pengunjung setia muslim.or.id, berikut adalah penjelasan yang cukup mendetail mengenai al wala’ wal baro’, tulisan dari al Ustadz Abdullah Taslim, MA (sedang menempuh S3 di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia), pengisi setia beberapa rubrik di web muslim.or.id. Pembahasan ini dibagi oleh redaksi menjadi dua bagian. Jadi, kami mohon pembaca dapat menyimak dua tulisan ini secara tuntas sehingga mendapatkan penggambaran yang lebih sempurna. Tulisan pertama ini berjudul “Loyalitas dalam Islam“. Tulisan kedua berjudul “Contoh Loyalitas pada Orang Kafir“. Semoga Allah senantiasa memberikan pada kita ilmu yang bermanfaat.


Masalah al-wala’ (loyalitas/kecintaan) dan al-bara’ (berlepas diri/kebencian) adalah masalah yang sangat penting dan ditekankan kewajibannya dalam Islam, bahkan merupakan salah satu landasan keimanan yang agung, yang dengan melalaikannya akan menyebabkan rusaknya keimanan seseorang[1].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Al-baraa’ah (sikap berlepas diri/kebencian) adalah kebalikan dari al-wilaayah (loyalitas/kecintaan), asal dari al-baraa’ah adalah kebencian dan asal dari al-wilaayah adalah kecintaan. Yang demikian itu karena hakikat tauhid adalah (dengan) tidak mencintai selain Allah dan mencintai apa dicintai Allah karena-Nya. Maka kita tidak (boleh) mencintai sesuatu kecuali karena Allah dan (juga) tidak membencinya kecuali karena-Nya”[2].


Imam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Sesungguhnya barangsiapa yang mentaati Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mentauhidkan Allah maka dia tidak boleh berloyalitas (mencintai) orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun orang tersebut adalah kerabat terdekatnya”[3].

Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan ketika menjelaskan masalah ini, beliau berkata, ”Setelah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, wajib (bagi setiap muslim untuk) mencintai para kekasih Allah (orang-orang yang beriman) dan membenci musuh-musuh-Nya. Karena termasuk prinsip-prinsip dasar akidah Islam adalah kewajiban setiap muslim yang mengimani akidah ini untuk mencintai orang-orang yang mengimani akidah Islam dan membenci orang-orang yang berpaling darinya. Maka seorang muslim (wajib) mencintai dan bersikap loyal kepada orang-orang yang berpegang teguh kepada tauhid dan memurnikan (ibadah kepada Allah Ta’ala semata), sebagaimana (dia wajib) membenci dan memusuhi orang-orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah Ta’ala).


Dan ini merupakan bagian dari agama (yang dianut) nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk)nya, yang kita diperintahkan untuk meneladani mereka, dalam firman Allah,

{قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ}

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada (diri nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata” (QS. al-Mumtahanah:4).


Juga merupakan bagian dari agama (yang dianut) nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yahudi dan Nasrani sebagai kekasih/teman dekat(mu); sebagian mereka adalah kekasih bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai kekasih/teman dekat, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka” (QS. al-Maa-idah:51)[4].

Kedudukan al-wala’ dan al-bara’ dalam Islam

Ketika menjelaskan agungnya kedudukan masalah ini dalam keimanan dan tauhid, Imam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Tidak akan lurus (benar) keislaman seseorang, meskipun dia telah mentauhidkan Allah dan menjauhi (perbuatan) syirik, kecuali dengan memusuhi orang-orang yang berbuat syirik dan menyatakan kepada mereka kebencian dan permusuhan tersebut”[5].


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Jika keimanan dan kecintaan di dalam hati seorang (muslim) kuat, maka hal itu menuntut dia untuk membenci musuh-musuh Allah”[6].

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin lebih lanjut menjelaskan, “Sikap loyal dan cinta terhadap orang-orang yang menentang Allah menunjukkan lemahnya keimanan dalam hati seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya, karena tidaklah masuk akal jika seseorang mencintai sesuatu yang dimusuhi kekasihnya (Allah Ta’ala). Bersikap loyal terhadap orang-orang kafir adalah dengan menolong dan membantu mereka dalam kekafiran dan kesesatan yang mereka lakukan, sedangkan mencintai mereka adalah dengan melakukan sebab-sebab yang menimbulkan kecintaan mereka, yaitu berusaha mencari kecintaan (simpati) mereka dengan berbagai cara. Tidak diragukan lagi perbuatan ini akan menghilangkan kesempurnaan iman atau keseluruhannya. Maka wajib bagi seorang mukmin untuk membenci dan memusuhi orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun orang tersebut adalah kerabat terdekatnya, akan tetapi ini tidak menghalangi kita untuk menasehati dan mendakwahi orang tersebut kepada kebenaran”[7].


Dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya al-wala’ dan al-bara’

Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini – selain dua ayat di atas – banyak sekali, diantaranya firman Allah Ta’ala,

{لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, dan Dia menempatkan mereka di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (QS al-Mujaadilah:22).


Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini berkata, “…Seorang hamba tidak akan menjadi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat dengan (keimanan) yang sebenarnya kecuali setelah dia mengamalkan kandungan dan konsekwensi imannya, yaitu mencintai dan berloyalitas kepada orang-orang yang beriman (kepada Allah), serta membenci dan memusuhi orang-orang yang tidak beriman, meskipun mereka orang yang terdekat hubungannya dengannya.

Inilah keimanan yang hakiki yang menumbuhkan buah dan hasil (yang benar), …

Adapun orang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan hari akhirat, tapi bersamaan dengan itu dia mencintai musuh-musuh Allah dan menyayangi orang-orang yang mencampakkan iman dibelakangnya, maka ini adalah iman yang (cuma) pengakuan (tapi) tidak ada (bukti) nyatanya. Karena segala sesuatu harus disertai bukti (nyata) yang membenarkannya, adapun sekedar pengakuan (tanpa bukti) maka tidak ada artinya dan tidak membenarkan pelakunya”[8].


Juga dalam firman-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ}

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai kekasihmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa yang di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai kekasih, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS at-Taubah:23).

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,


“من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان”

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena-Nya, maka sungguh telah sempurna keimanannya“[9].

Pembagian sikap al-wala’ dan al-bara’ kepada orang-orang kafir dan musyrik[10]

Sikap al-wala’ dan al-bara’ kepada orang-orang kafir dan musyrik ada dua macam dan keduanya memiliki hukum yang berbeda, yaitu:

1– at-Tawalli, yang berarti mencintai perbuatan syirik dan pelakunya, atau menolong, membantu dan mendukung mereka untuk (melawan) orang-orang mukmin, atau senang dengan semua itu, maka ini (hukumnya) adalah kekafiran yang besar (yang menyebabkan seseorang keluar/murtad dari agama Islam). Allah Ta’ala berfirman,


{وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ}

“Barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai kekasih/teman dekat, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka” (QS al-Maa-idah:51).

Imam al-Bhagawi berkata, “Keimanan seorang mukmin akan rusak dengan dia mencintai orang-orang kafir”[11].

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menyebutkan hal ini termasuk hal-hal yang membatalkan keislaman seseorang dan beliau berargumentasi dengan ayat di atas[12].

2- al-Muwaalaah, yang berarti saling berkasih sayang dan bersahabat, lawannya saling bermusuhan dan membenci. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah merahmatinya – berkata, “Sesungguhnya al-wilaayah (loyalitas/kecintaan) adalah lawan dari al-‘adaawah (permusuhan), dan al-wilaayah mengandung (konsekwensi) kecintaan dan kecocokan, sedangkan al-‘adaawah mengandung (konsekwensi) kebencian dan ketidakcocokan”[13].

Patokan (dalam menilai) al-Muwaalaah adalah mencintai orang-orang yang berbuat syirik karena (urusan) dunia (semata), dan tidak ada padanya (unsur) menolong (keyakinannya). Ini hukumnya termasuk perbuatan dosa besar (tapi tidak sampai tingkat kekafiran). Allah Ta’ala berfirman,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ}

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman dekat yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)  karena rasa kasih sayang” (QS al-Mumtahanah:1).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah merahmatinya – berkata, “Terkadang seorang (muslim) mencintai orang kafir karena (ada hubungan) keluarga atau keperluan (dunia), maka kecintaan ini adalah perbuatan dosa yang mengurangi (kesempurnaan) imannya, akan tetapi tidak menjadikannya kafir (keluar dari Islam), sebagaimana yang terjadi pada Hathib bin Abi Balta’ah[14] “[15].

Maka perbedaan antara at-tawalli dan al-muwaalaah adalah bahwa at-tawalli termasuk kekafiran besar yang menyebabkan pelakunya keluar (murtad) dari agama Islam, sedangkan al-muwaalaah adalah dosa besar (yang tidak sampai tingkat kekafiran).

Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif – semoga Allah merahmatinya – pernah ditanya tentang perbedaan antara al-muwaalaah dan at-tawalli ? Maka beliau menjawab, “ at-tawalli adalah kekafiran yang menyebabkan pelakunya keluar (murtad) dari agama, seperti membela dan menolong orang-orang kafir dengan harta, raga dan pikiran. Sedangkan al-muwaalaah adalah termasuk dosa besar, seperti (membantu) mengisi tinta (pulpen), atau meraut pensil, menampakkan (wajah yang) berseri-seri (di hadapan) mereka, atau mengangkatkan cambuk bagi mereka”[16].

Bagaimana menempatkan sikap al-wala’ dan al-bara’ pada manusia sesuai dengan kadar ketaatan dan kemaksiatan mereka?[17]

Dalam hal ini manusia dibagi menjadi tiga golongan:

1– Orang-orang yang wajib dicintai dengan kecintaan yang murni dan tanpa kebencian (sama sekali).

Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang murni (sempurna), dari kalangan para nabi, para shiddik[18], orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh.

Yang paling utama adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau wajib untuk dicintai melebihi kecintaan kepada diri sendiri, orang tua, anak dan semua manusia.

Kemudian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anggota keluarga beliau, serta para sahabat radhiyallahu ‘anhum, terutama al-Khulafa’ur raasyidin (khalifah yang empat), sepuluh orang sahabat yang dijanjikan masuk surga, para sahabat muhajirin dan anshar, para sahabat yang ikut perang Badr, para sahabat yang ikut dalam baiat ridwan, dan para sahabat lain secara keseluruhan radhiyallahu ‘anhum.

Kemudian para tabi’in, para ulama dari tiga generasi utama, para ulama salaf dan imam mereka, seperti imam mazhab yang empat.

Allah Ta’ala berfirman,

{وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَااغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Engkau menjadikan dalam hati kami (ada) rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman, ya tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha penyantun lagi Maha Penyayang” (QS al-Hasyr:10).

Orang yang memiliki iman dalam hatinya tidak mungkin membenci para sahabat y dan para ulama salaf. Yang membenci mereka hanyalah orang-orang yang menyimpang (agamanya), orang-orang munafik dan musuh-musuh Islam, seperti orang-orang Rafidhah (Syi’ah) dan Khawarij, semoga Allah menyelamatkan kita (dari penyimpangan mereka).

2– Orang-orang yang wajib dibenci dan dimusuhi dengan kebencian dan permusuhan yang murni tanpa ada rasa cinta dan sikap loyal (sama sekali).

Mereka ini adalah orang-orang kafir yang murni (kekafirannya), dari kalangan orang-orang kafir, musyrik, munafik, murtad (keluar dari agama Islam), dan orang-orang yang mulhid (menyeleweng/menyimpang jauh dari agama Islam, seperti orang-orang zindik), dengan berbagai macam dan golongan mereka.

3– Orang-orang yang (wajib) dicintai dari satu sisi (karena keimanan dan ketaatannya), dan dibenci dari sisi yang lain (karena perbuatan maksiatnya). Maka terkumpul pada diri mereka ini kecintaan dan kebencian sekaligus.

Mereka ini adalah orang-orang mukmin yang berbuat maksiat. Mereka wajib dicintai karena mereka memiliki iman, dan dibenci karena mereka melakukan perbuatan maksiat yang tidak sampai pada tingkat kekafiran dan kesyirikan.

Kecintaan kepada mereka ini mengandung konsekwensi menasehati dan mengingkari (perbuatan maksiat) mereka. Kita wajib memerintahkan mereka untuk berbuat baik dan melarang mereka dari kemungkaran, serta menegakkan batasan dan hukum Allah kepada mereka, sampai mereka meninggalkan perbuatan maksiat dan bertobat dari kesalahan mereka.

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA

[1] Lihat kitab “Taisiirul wushul” (hal. 36) tulisan syaikh Abdul Muhsin al-Qaasim.
[2] Kitab “majmu’ul fataawa” (10/465).
[3] Kitab “al-Ushuluts tsalaatsah” (hal. 8).
[4] Kitab “al-Wala’ wal bara’ fil Islam” (hal. 2).
[5] Kitab “ad-Durarus saniyyah” (8/331).
[6] Kitab “majmu’ul fataawa” (7/522).
[7] Syarhu tsalaatsatil ushul (hal. 36).
[8] Taisiirul Kariimir Rahman (hal. 623).
[9] HR Abu Dawud (no. 4681) dan al-Hakim (no. 2694), dinyatakan shahih oleh al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.
[10] Pembahasan ini kami ringkas dari kitab “Taisiirul wushul” (hal. 40-41) dengan sedikit penyesuaian.
[11] Tafsiirul Baghawi (4/312).
[12] Lihat “Risalatu nawaaqidhil islaam”, poin ke delapan.
[13] Kitab “Majmu’ul fataawa” (5/510).
[14] Kisah beliau t dalam HSR al-Bukhari (no. 2845) dan Muslim (no. 2494).

[15] Kitab “Majmu’ul fataawa” (7/523).
[16] Ad-Durarus saniyyah (8/422).
[17] Pembahasan ini kami ringkas dari kitab “al-wala’ wal bara’ fil Islam” tulisan syaikh Shaleh al-Fauzan (hal. 15-17) dengan sedikit penyesuaian.
[18] Mereka adalah orang-orang yang sangat teguh keimanannya terhadap kebenaran seruan para nabi.

https://muslim.or.id/1881-loyalitas-dalam-islam.html
 

Waspada dari Dua Penyakit Ini


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: 

"Banyak dari orang-orang yang menyandarkan diri kepada ilmu ditimpa kesombongan, sebagaimana banyaknya ahli ibadah ditimpa kesyirikan.

Oleh karenanya, penyakit ilmu adalah kesombongan dan penyakitnya ibadah adalah riya.

Mereka semua terhalangi dari hakikat ilmu. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: 

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ

 "Akan Aku palingkan dari tanda-tanda kekuasaan-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar." [QS. al-A'raf: 146]

Abu Qilabah rahimahullah berkata: 

منع قلوبَهم فهم القرآن

 “Allah menghalangi hati mereka dari memahami al-Qur’an.” 

Itulah sebabnya, sombong kebanyakan diderita oleh orang-orang Yahudi dan semisalnya yang mengetahui kebenaran namun tidak mengikutinya.

Sedangkan kemusyrikan ada pada Nasrani dan semisalnya yang beramal dan beribadah tanpa ilmu.

Sedangkan orang-orang yang mendapat petunjuk adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya."

Ar-Rad 'ala asy-Syaadzili hal. 207

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله:

وكثير من المنتسبين إلى العلم يُبتلى بالكِبْر كما يُبتلى كثيرٌ من أهل العبادة بالشرك،

ولهذا فإن آفة العلم الكِبْر وآفة العبادة الرياء،

وهؤلاء يُحْرَمون حقيقة العلم كما قال تعالى {سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ} [الأعراف ١٤٦].

قال أبو قِلابة: "منع قلوبَهم فهم القرآن"،

ولهذا كان الكِبْر كثيرًا في اليهود وأشباه اليهود الذين يعلمون الحقَّ ولا يتبعونه،

والشرك كثير في النصارى وأشباه النصارى الذين يعملون ويعبدون بغير علم.

والمهتدون هم الذين يعلمون الحق ويعملون به.

📕[الرد على الشاذلي (ص٢٠٧)]

📚 Bergabung dan bagikan faedah ini:

✅ https://t.me/mahadminhajulatsarjember

🌺 Baarakallahufiikum